Friday, 14 August 2009

TES & TEKNOLOGI - HD vs Blue Ray

Di Balik Kemenangan Blu-ray
Akhir yang tragis dialami HD-DVD. Belum lama ini Toshiba mengumumkan tak lagi memproduksi HD-DVD. Dengan pengumuman tersebut Blu-ray berhasil melibas HD-DVD untuk menjadi format tunggal format DVD generasi berikut.

Image
Bagi konsumen yang telah membeli player Blu-ray maupun penggila game PS3, kabar ini tentu menggembirakan. Sebaliknya, yang terlanjur membeli player HD-DVD, harus berlapang dada karena tidak akan ada lagi film yang diproduksi dalam format HD-DVD kecuali yang sudah terlanjur di pasaran.
Dalam jangka dekat, film yang sudah terlanjur diproduksi mungkin harganya akan dibanting habis hingga stoknya habis terjual. Konsumen Xbox 360 pun tak luput dari imbas tamatnya HD-DVD. Namun, di balik ini, konsumen tak lagi dipusingkan, format mana yang dipilih. Kenapa HD-DVD harus keok menghadapi Blu-ray? Mari kita simak ulasan berikut.
PS3 vs. XBOX 360
Sampai laporan ini naik cetak, belum ada tanggapan resmi dari Microsoft terkait "tewasnya" produksi HD-DVD. Walau (untungnya) bukan dibundel di konsol game Xbox 360, HD DVD ini menjadi aksesori utama yang dibeli secara terpisah. Sebalik­nya, Sony sebagai rival Microsoft, setiap penjualan Playstation 3 (PS3) bisa diartikan sebagai angka kemenangan Blu-ray karena PS3 dan Blu-ray dijual dalam satu paket.
Matinya produksi HD-DVD ini, menunjukkan Microsoft salah langkah dalam memilih. Namun, jika HD-DVD dibundel ke Xbox 360, mungkin umur HD-DVD bisa berbeda karena konsol ini justru terjual di atas angka 17 juta di seluruh dunia, melampaui PS3 yang hanya 10,5 juta (hingga penghujung 2007 silam). Dengan perkembangan terbaru ini, penjualan PS3 tentunya akan ngebut, sementara Xbox mencari alternatif pengganti HD-DVD. Sementara itu, tidak gampang bagi Microsoft untuk menyelamatkan penjual­an Xbox 360 ini. Apakah Microsoft akan memakai Blu-ray yang juga produk rivalnya di Xbox 360? Keputusan bisnis yang tidak mudah, tetapi harus kita tunggu.
Anti gores
Data Blu-ray yang tersimpan di media disk pada kedalaman 0,1 mm dari permukaan memang lebih dangkal ketimbang HD-DVD yang menyimpannya pada kedalaman 0,6 mm. Namun berkat lapisan antigores yang mumpuni, justru data yang tersimpan di Blu-ray lebih aman ketimbang HD-DVD. Bahkan jika mendapat perlakuan kasar sekalipun, permukaan Blu-ray tetap mulus.
Di YouTube, pernah ada seorang yang iseng mencoba menggores-gores permukaan Blu-ray. Namun, data di dalamnya masih tetap bisa terbaca. Untuk melihat videonya, silahkan buka link www.youtube.com/watch?v=o5jEbZt6AIQ atau cari dengan keyword “Blu-ray disc stress test”.

Kerapatan data
Baik Blu-ray maupun HD-DVD menggunakan standar encoding video (MPEG-2, MPEG-4, VC1 dan lainnya) serta standar audio Dolby, DTS, dan lainnya. Film juga di-encode pada ukuran dan frame yang setara, yakni 1920 dan 1080 dengan 24 frame per second (fps). Kedua format ini juga seragam dalam memakai panjang gelombang laser biru 405 nm. Keduanya akan mengecilkan gambar ke 720p (resolusi 1280x720) dan mengonversi ke atas untuk frame rate TV yang mensyaratkan tampilan 30 fps atau 60 fps.
Lantas di mana perbedaannya? Terletak pada ukuran aperture (lubang bidik) dari lensa yang dipakai untuk memfokuskan laser dan ketebalan permukaan disk. Blu-ray mampu memfokuskan sinar laser secara lebih pendek yang memungkinkan disk menyimpan data lebih rapat. Inilah yang menjadikan Bluray mampu melahap 25 GB untuk single layer dan 50 GB untuk dual layer. Bandingkan dengan HD-DVD yang hanya 15 GB dan 30 MB pada single dan dual layer.
Image
Pemenang : Blu-ray yang menjadi pemenang perang format DVD berdefinisi tinggi.
Kualitas gambar
Masih terkait dengan kerapatan data, kualitas gambar juga tak lepas dari kapasitas kedua format tersebut. Dengan perbedaan kemampuan penyimpanan, kemungkinan diturunkannya kualitas gambar film terkadang tidak bisa dihindari. Setiap format kompresi mengharuskan studio film tarik menarik antara kualitas gambar dan me­ngecilkan ukuran data. Pilihannya, mereka bisa meng-encode film berkualitas tinggi, tetapi lebih rakus ruang penyimpanan atau menurunkan kualitas gambar film demi menghemat kebutuhan ruang penyimpanan. Namun, bukan berarti gambar dibikin kecil demi ruang penyimpanan (tetap pada ukuran dan frame rate seperti di atas), melainkan menurunkan “respons frekuensi” dari pixel. Jika diumpamakan, Anda membeli dua film yang sama, salah satunya film berkualitas tinggi dan lainnya film berkualitas pas-pasan. Ukuran gambarnya tetap setara, tetapi Anda melihat salah satu film lebih enak ditonton.
Jika studio film akan merekam de­ngan kualitas tinggi dan filmnya berdurasi panjang, bisa jadi ruang disk yang tersisa tidak mencukupi untuk materi tambahan seperti film yang akan datang atau lainnya. Bagi Blu-ray, ini tidak jadi soal karena ia mengantongi kapasitas yang lebih besar. Namun bagi HD-DVD, hal ini bisa menjadi masalah. Studio film harus memilih apakah mengurangi kualitas gambar atau menambahkan disk kedua agar semua semua materi film masuk (akan berdampak naiknya harga eceran).
Image
Serupa tapi tak sama : Secara fisik, kedua format ini mirip, tetapi berbeda dalam beberapa kemampuan.
Mengapa ada dua format
Tentunya sebagai konsumen, kita meng­inginkan hanya satu format saja yang ditentukan. Bagi studio film, kondisi ini juga akan merepotkan karena mereka harus memilih, apakah filmnya memakai Blu-ray atau HD-DVD. Sebagai konsumen, jika tidak memiliki kedua pemutar disk berdefinisi tinggi tersebut tentu akan sangat terkungkung saat akan membeli film.
Namun bagi produsen Blu-ray dan HD-DVD, lahirnya kedua format yang berseteru ini tak lain karena faktor uang. Jika setiap lisensi dari format milik mereka terjual, keuntungan besar akan mereka dapatkan.
Bit rate
Maksimal bit rate Blu-ray adalah 48 Mbit/detik, sementara HD-DVD terbatas pada angka 30,24 Mbit/detik. Semakin cepat bit rate, mengindikasikan seberapa tajam dan mulus gambar yang ditampilkan atau sua­ra yang menggelegar. Jika Anda memiliki film dengan bit rate yang rendah, gambarnya akan kurang mulus. Memang gambar HD-DVD tidak bisa dibilang jelek, tetapi Blu-ray lebih berpotensi dalam menggenjot kualitas gambar yang lebih tajam dan suara lebih bergemuruh.
Dukungan studio film
Dunia hiburan memang pasar terbesar sekaligus kunci bisnis bagi kedua format berdefinisi tinggi ini. Sampai awal 2008 ini, masih ada 3 studio film tersisa yang mendukung HD-DVD, yakni Paramount, Universal, dan Warner Bros yang merilis dalam kedua format. Namun, saat Warner Bros memutuskan hanya merilis film dalam format Blu-ray, inilah kunci berakhirnya perang ini. Dan yang terakhir, Toshiba sebagai dedengkot HD-DVD pun memutuskan untuk menghentikan produksi dan pengembangan HD-DVD pada 19 Februari 2008 lalu.

disadur dari : http://www.chip.co.id/comparison-test/tes-teknologi-hd-vs-blue-ray-4.html